Live Streaming

Post Page Advertisement [Top]

INRADIOFM.COM, BANGKA - Menjadi makanan yang dikenal banyak orang dan diakui secara nasional maupun internasional, membuat banyak stakeholder di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terutama di Kabupaten Bangka untuk terus bergiat dan berupaya agar makanan khas Bangka seperti Pantiaw, Lakso dan lain sebagainya juga dapat diakui kelezatannya.

Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (PMP2KUKM) Kabupaten Bangka melalui Kasi UMKM Marliana, mengakui sejauh ini makanan basah khas Bangka keberadaannya masih terbatas pada pesanan dan tidak diproduksi secara massal dikarenakan keterbatasan tenaga kerja dan masih bersifat tradisional.

"Banyak yang buat makanan seperti pantiaw, lakso dan lainnya, namun terbatas jumlahnya, dikarenakan selain sesuai orderan, yang buat juga masih kesulitan pegawainya, karena kalau mau banyak, perlu banyak tenaga," ungkap Marliana, Selasa (27/2/2018) di Sungailiat.

Dikatakannya, pelaku usaha membuat makanan olahan basah seperti pantiaw dan lakso sejauh ini dalam sehari sekitar 10 kilogram, dan sesuai pesanan juga. "Jadi tidak rutin setiap hari, kalau ada yang minta baru buat," katanya lagi.

Selain itu, Marliana menyebutkan makanan pantiaw dan lakso ini hanya dikenal di kalangan masyarakat Babel saja, dan kurangnya promosi secara rutin dan tidak se-terkenal makanan asal daerah lain yang sudah menjadi identitas suatu daerah.

"Terkenal, sih terkenal, tapi di kalangan kita saja. Masih belum menasional, paling kalau ada pameran saja baru kita buat, atau kalau ada tamu, baru kita suguhkan, jadi tidak ada rutinnya, terus pembuatnya juga masih terbatas," jelasnya.

Dikalangan para wisatawan, yang paling dicari itu sejenis makanan seafood kering seperti kemplang, getas, kricu dan lainnya. Untuk pantiaw, dan lakso, sejauh ini ala kadarnya, paling disuguhkan untuk tamu, tapi kalau sebagai buah tangan, diakui Marliana masih kurang, selain belum familiar, juga stoknya terbatas dan harus memesan dahulu.

"Kebanyakan pelaku UKM kita membuat kemplang, getas dan sejenisnya itu, kalau seperti pantiaw atau lainnya sebatas pesanan saja. Bukannya tidak ada bahan baku, namun pembuatnya ini yang masih kurang, dan juga kurang tahan lama, masih kurang promosi juga keluar," terangnya lagi.

Sementara itu, salah seorang penjual pantiaw Bik As yang dijumpai berjualan di daerah Bukit Betung mengungkapkan, dirinya membuat pantiaw dalam sehari sekitar dua sampai tiga kilogram. "Lumayan juga, kalau yang bantunya banyak bisa lebih dari itu, sekarang dua sampai kilogram saja," kata As.

Kedepan As berharap, makanan pantiaw ini bisa lebih terkenal dan bisa menjadi salah satu ikon untuk wisata kuliner di Kabupaten Bangka. (HK_Pemkab Bangka).

Tidak ada komentar:

Bottom Ad [Post Page]