LIVE STREAMING

Post Page Advertisement [Top]

INRADIOFM.COM, PANGKALPINANG - Wakil ketua MUI Kota Pangkalpinang Ustadz Syamsuni Saleh mengatakan sudah menjadi realitas jamannya bila hoax alias berita bohong seringkali dijumpai, mengingat derasnya arus informasi di Indonesia saat ini.

Hal ini disampaikannya saat wawancara eksklusif di program Cerudik dengan tema "Antara Medsos dan Hoax" di LPPL In Radio 97,6 FM, Kamis (1/3/2018).

Ustadz Syamsuni mewakili MUI Kota Pangkalpinang juga mengatakan bahwa hoax alias berita bohong dalam perspektif Islam masuk kategori perbuatan fitnah dan termasuk 10 dosa besar.

"Hoax itu masuk fitnah dan 10 dosa besar karena nama baik seseorang tercemar dan dirugikan. Jelas lebih banyak mudhoratnya, tak ada manfaatnya menyebarkan berita hoax ini," ungkapnya.

Beliau juga mengapresiasi tugas para aparat yang berwajib dalam mengantisipasi penyebaran berita hoax di Indonesia.

"Kami tokoh agama mendukung yang dilakukan Polri atau TNI. Babel ini daerahnya agamis, rukun dan damai. Kita rindu kebersamaan di masa lalu yang sepertinya mulai terlupakan dinegeri ini," jelasnya.

Sementara itu, AKP. Adi Putra Kasat Intelkam Polresta Pangkalpinang yang sempat diwawancarai oleh Bujang Kudul dan Yak Abu dalam program Cerudik tersebut turut menyampaikan, bahwa kepolisian sangat fokus mengantisipasi penyebaran berita hoax di Babel.

"Ada yang sengaja ingin membuat kondisi tidak aman Indonesia dengan cara adu domba menebar berita tidak benar alias hoax tentang pemerintah. Dan ini lampu merah buat kami," ungkapnya.

Ketika ditanya penyebab penyebaran berita hoax yang masih masif terjadi, Adi Putra menjelaskan tak lain karena masyarakat masih banyak terjebak provokasi berita hoax terutama di media sosial.

"Yang kebanyakan terjadi, masyarakat kita jarang mau mengecek asal usul berita. Kalau belum jelas beritanya ngapain dishare dan lebih baik memang jangan mudah ngeshare terutama di facebook, grup WA, twitter, dan lain-lain," jelasnya.

Sementara itu Akbar Riandi dari komunitas Relawan Teknologi dan Informatika (RTIK) Babel dalam kesempatan yang sama mengemukakan bahwa dunia maya ibaratkan sebuah hutan belantara rimba dan tak mudah dikontrol.

"Contoh membaca satu informasi saja. Bagi orang ini mungkin dianggap radikalisme, namun bagi yang lain ini sebuah opini pribadi. Disitu kadang kenapa dianggap belantara rimba dan sulit dikontrolnya," ungkap Akbar.

Akbar yang juga aktif sebagai pemateri di berbagai sosialisasi internet ini, turut memberikan tips agar masyarakat terhindar dari jebakan berita hoax, dengan bijak sebelum memposting.

"Sering kita ditanya, apa yang Anda pikirkan saat membuka Facebook misalnya. Sekarang dibalik pertanyaanya, pikirkan setiap apapun yang akan Anda ketik. Dari pada terjebak UU ITE, lebih baik medsos Anda hanya dikhususkan memposting hal-hal positif saja. Lebih aman untuk Anda dan orang disekitar Anda," tutup Akbar. (AB_HK)

Penulis : Abu Bakar
Editor : HK

Tidak ada komentar:

Bottom Ad [Post Page]