Siapa Sesungguhnya Orang Yang Lebih Layak Berbahagia di Hari Raya? - INRADIOFM.COM

Berita Terbaru >>>

Selasa, Juni 12, 2018

Siapa Sesungguhnya Orang Yang Lebih Layak Berbahagia di Hari Raya?

INRADIOFM.COM, PANGKALPINANG - Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Pangkalpinang, H. Syamsuni Saleh SQ mengatakan, orang yang lebih layak berbahagia di Hari Raya Idul Fitri, diibaratkannya seperti petani yang sedang memanen hasil kebun buahnya dengan kualitas yang bagus, dan terbaik. Hal itu disampaikannya, saat ditemui crew Cerudik In Radio, seusai menjadi khotib di Masjid Al Falah, Bukit Nyatoh, Pangkalpinang, Jum'at (1/6/2018) lalu.

Ia mengatakan, ada perbedaan mendasar saat seseorang memaknai Idul Fitri yang sering diartikan pula sebagai hari kemenangan. Yang berarti, adanya perubahan sikap dalam berproses meningkatkan kualitas ibadahnya pasca Ramadhan. Orang yang berpuasa karena iman dan rasa taatnya kepada Allah, diibaratkan buah yang matang, harum dan manis rasanya.

"Ibarat buah, pas di bulan Sya'ban kita menanamnya, awal Ramadhan mulai kelihatan buahnya. Nah, awal Idul Fitri ini, detik-detik matang atau siap panennya. Orang yang berpuasa karena iman, ibaratkan buah tadi, matang, harum dan manis," jelasnya.

Namun sebaliknya, kata dia, jika orang yang berpuasa niat bukan karena Allah, di awal-awal Ramadhan tampak rajin berpuasa, dan sholat di masjid, namun setelah masuk minggu kedua, ketiga, dan di akhir-akhir Ramadhan, terjadi hal sebaliknya.

"Bukan lagi masjid yang dimakmurkan, tapi pasar. Bukanlah yang pertama kali dihisab itu, berapa meja kau buat kue, berapa panci kau buat opor ayam, tapi bagaimana dengan sholatmu, bagaimana dengan amal ibadahmu," pesannya.

Ia menambahkan, jika diibaratkan buah tadi, bagus luarnya tapi dalamnya ketika dikupas ada ulatnya, tak ada yang mau memakannya. Makanya, puasa disebut sebagai ibadah Mahdoh, yakni hanya kita dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang tahu.

Perbanyak Istighfar, Baca Al Qur'an dan Jaga Wudhu, Membuatmu Selalu Terkoneksi Dengan Robbmu

H. Syamsuni Soleh SQ juga berpesan, solusi terbaik agar tetap menjaga nilai-nilai Ramadhan, agar terbawa dalam keseharian setelah Ramadhan berlalu, diantaranya dengan memperbanyak istighfar, rajin membaca dan mengamalkan Al Qur'an.

"Perbanyaklah beristighfar, baca Qur'an, rajin ikut taqlim atau kajian, dan sering bersedekah, agar nuansa Ramadhan kita selalu melekat setiap hari," ucapnya.

Dan, ia juga mengingatkan untuk selalu menjaga wudhu. Karena banyak ulama, bahkan Rosulullah telah berpesan, jangan tinggalkan wudhu dan jagalah wudhumu. InsyaAllah, jika kita dipanggil Allah Subhana Wa Ta' Ala dalam keadaan berwudhu, tanda-tanda khusnul khotimah. (AB_HK)

Penulis : Abu Bakar ll editor : Heri Kurniawan

Tidak ada komentar: