Zaenudin Alwi SPdI : Idul Fitri Titik Nol Kilometer Kita - INRADIOFM.COM

Berita Terbaru >>>

Rabu, Juni 13, 2018

Zaenudin Alwi SPdI : Idul Fitri Titik Nol Kilometer Kita

INRADIOFM.COM, PANGKALPINANG - Ketua Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Bangka Belitung Zaenuddin Alwi SPdI mengatakan, Hari Raya Idul Fitri dapat dimaknai sebagai titik awal proses peningkatan kualitas diri menjadi sosok pribadi muslim sejati, yang selalu dapat memberikan manfaat kepada agama, bangsa dan negara. Hal ini diutarakannya saat ditemui oleh crew Cerudik In Radio, di kediamannya, di Gabek Permai, Pangkalpinang, Jum'at (7/6/2018).

Ia juga mengatakan, momentum malam lebaran sering disalahartikan oleh sebagian generasi muda. Yang dianggapnya sebagai waktu untuk melepaskan segala hal yang membelenggu selama ini, karena hadirnya bulan Ramadhan. Yang seharusnya dapat dialihkan kepada hal-hal yang lebih baik dan bermanfaat bukan malah sebaliknya.

"Kalau semasa Ramadhan, merasakan pergerakannya seakan dibatasi oleh orangtua, tidaklah bebas ceritanya. Lalu, setelah Ramadhan, baru bisa merasakan kebebasannya, nah ini salah memaknainya," ungkapnya.

Ia menjelaskan, Idul Fitri memiliki makna, seseorang yang kembali suci. Kembali ke titik awal penciptaannya sebagai manusia, yang tanpa dosa, dan mengambil langkah ke depan menjadi pribadi muslim yang lebih baik.

"Yang menjadi titik awal kita, titik nol kilometer kita untuk melangkah jauh ke depan. Semisal contoh, yang sebelumnya sering keluar malam dengan lawan jenis, sekarang cobalah dihilangkan, untuk hal-hal yang baik, itu berkat tempaan di Bulan Ramadhan," jelasnya.

Lebaran Itu Tak Susah. Berpuasa, Itu Jauh Lebih Susah

Zaenuddin Alwi SPdI yang juga merupakan Kepala Sekolah di Madrasah Ibthidaiyah Nahdatul Ulama (MINU) Pangkalpinang ini mengatakan, salah satu tujuan utama hasil ibadah puasa di bulan Ramadhan, sesungguhnya adalah untuk menjaga hawa nafsu tetap terjaga dengan baik, dan menjadikan diri sebagai hamba Allah Subhanahu Wa Ta' alla yang bertaqwa.

"Dalam syariah Islam, berbuka puasa itu semestinya 1 Syawal, lalu 2 Syawalnya itu, kita sudah disunnahkan berpuasa 6 hari dibulan Syawal. Maknanya apa, supaya nafsu kita tidak kebablasan, hilang cerita Ramadhan sebulan di karenakan dikalahkan lebaran," jelasnya.

Ia juga mengingatkan, pesan yang Rosulullah sampaikan dalam HR. An Nasai, Anas radhiyallahu 'anhu berkata,
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ
"Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, "Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)" (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu'aib Al Arnauth).
"Dikatakan kita untuk menggantikan kebiasaan orang Arab terdahulu dengan yang lebih baik. Makna apa untuk kita, boleh berlebaran, tapi semampunya kita dan tidak berlebihan," pesannya. (AB_HK)

Penulis : Abu Bakar || editor : Heri Kurniawan

Tidak ada komentar: