Babel Tekan Angka Pernikahan Dini - INRADIOFM.COM

Berita Terbaru >>>

Jumat, Agustus 03, 2018

Babel Tekan Angka Pernikahan Dini

INRADIOFM.COM, PANGKALPINANG - Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Babel) bekerjasama dengan BKKBN dan lintas sektor lainnya, berupaya untuk menekan angka pernikahan dini di Babel yang cukup tinggi.

Sekda Pemprov Babel, Yan Megawandi mengatakan, dari beberapa indikator kependudukan sudah dinyatakan lumayan baik, sehingga banyak angka yang jauh lebih bagus dari Nasional. Namun,  yang harus dilakukan secara ekstra adalah bagaimana meningkatkan usia pertama perkawinan, menjadi 21 tahun untuk perempuan dan laki-laki 25 tahun.

"Berdasarkan penelitian usia kawin pertama mempengaruhi stunting, padahal stunting menjadi program nasional di kita , upaya untuk meningkatkan usia pernikahan ini yang harus kita lakukan," ungkap Sekda, usai membuka Lokakarya Pembentukan dan Pertemuan Kelompok Advokasi Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) di Hotel Cordela baru-baru ini.

Sekda juga menyampaikan, jika wanita menikah terlalu dini, maka ia dikhawatirkan belum siap untuk memiliki anak, berumahtangga dan melahirkan generasi penerus yang berkualitas, hal ini yang dikhawatirkan, bahkan rentan juga dengan tingginya kasus perceraian.

"Peningkatan usia ada kematangan secara emosional, pendidikan, fisik akan melahirkan anak-anak yang berkualitas," terangnya.

Pemprov, sambung Yan, sudah memiliki lembaga yang menangani persoalan ini yakni DP3ACSKB, hal ini menandai Babel ingin sungguh-sungguh fokus pada permasalahan kependudukan dan keluarga.

"Makanya kita juga meminta menjadi tuan rumah berbagai acara berkaitan dengan ini agar kita lebih banyak belajar dan menggali bagaimana penanganannya di daerah lain," imbuhnya.

Kepala DP3ACSKB Babel, Susanti menambahkan, untuk meningkatkan usia pernikahan menjadi usia yang ideal, pihaknya akan terus melaksanakan sosialisasi dan stop pernikahan anak (pernikahan dibawah usia 18, dan idealnya menikah 21 tahun).

"Kita akan Kampanyekan stop penikahan anak, ada kegiatan bersama seluruh pihak mengupayakan agar jangan sampai meningkat angka pernikahan dini ini, sosialisasi, KIE akan terus menerus dilakukan," tukasnya.

Selain itu, anak diarahkan untuk disibukkan dengan berbagai kegiatan agar tidak terpikirkan untuk menikah, serta penguatan keluarga memberikan pemahaman kepada orangtua untuk tidak terlalu cepat menikahkan anak-anaknya.

"Orangtua jangan sibuk arisan aaja tetapi juga mengedukasi anaknya membina anaknya agar tidak terlalu cepat menikah, gak baik kalau menikah terlalu muda, risikonya besar," jelas Susanti.

Pemprov, sambung mantan pejabat Bateng ini, sudah melakukan MoU dengan KUA dalam upaya menurunkan angka pernikahan dini.

"Sebenarnya kita sudah berupaya cuma memang di KUA, permasalahan hanya proses menikahkan, dispensasi kepada anak dibawah umur yang belum sepantasnya menikah, dilakukan oleh pengadilan, kalau ada itu, KUA bisa menikahkan, kedepan kami akan ajak pengadilan agama bagaimana upaya ini, jangan sampai dikeluarkan dispensasi itu, supaya remaja kita menikah di usia yang tepat," jelasnya.

Disinggung pernikahan dini untuk menghindari terjadinya perzinahan, Susanti menegaskan, banyak cara untuk menghindari zina, diantaranya perbanyak ibadah, fokus pada kegiatan lain, dan bukan yang mengarah pacaran, tingkatkan pemahaman remaja, termasuk sosialisasi bahayanya kesehatan reproduksi ketika terjadi pernikahan di usia belia.

Kepala Perwakilan BKKBN Babel, Etna Estelita menambahkan, Indikator program kelahiran sudah sangat baik di provinsi Babel, namun yang dirasakan krusial, adalah usia kawin pertama yang masih rendah.

"Kita masih rendah, 19 tahun angka pernikahannya, sementara nasional sudah 21 tahun,, kita masih banyak remaja kawin di bawah umur, ini yang perlu intervensi dan advokasi," tambahnya.

BKKBN, lanjut Etna tidak bisa bekerja sendiri, tetapi perlu sinergi dengan lintas sektor baik pemerintah daerah, TNI polri dan swasta untuk bersama-sama mengedukasi masyarakat.

"Ketika perempuan melahirkan  dengan usia dini akan berbahaya bagi ibu dan anak, penurunan stunting bisa dilakukan sebesar 20 persen ketika ibunya menikah usia 21 tahun," pungkasnya. (Nta_HK)

Tidak ada komentar: