Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Kabupaten Beltim Meningkat - INRADIOFM.COM

Berita Terbaru >>>

Rabu, Agustus 01, 2018

Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Kabupaten Beltim Meningkat

INRADIOFM.COM, Manggar, BELTIM – Angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Belitung Timur meningkat drastis di tahun 2018 ini. Hingga Juli 2018 ini saja, sudah tercatat 14 kasus yang ditangani Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DSPMD) Kabupaten Beltim.

Saat ini di Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung, Kabupaten Beltim menempati posisi ke dua dalam peringkat kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, setelah Kota Pangkalpinang. Pada tahun 2017 lalu, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Beltim hanya berjumlah 12 kasus.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DSPMD, Sri Mulyani menekankan kasus kekerasan yang terjadi bukan hanya kekerasan fisik semata, namun termasuk juga kekerasan phisikis. Paling banyak kasus didominasi oleh perebutan hak asuh anak akibat perceraian, tercatat ada 4 kasus.

"Ini karena angka perceraian di kita (Kabupaten Beltim-red) tinggi, akibatnya anak yang jadi korban. Kondisi phisikologis mereka terganggu, sekolah jadi terombang-ambing dan sering tertekan," jelas Sri di ruang kerjanya, Rabu (1/8/2018).

Selain itu, kasus kekerasan seksual terhadap anak dan penindasan/bullying yang dilakukan sesama anak juga masih terus terjadi. Setidaknya di tahun 2018 ini, ada dua kasus kekerasan seksual dan dua kasus penindasan yang dilaporkan.

"Kasus kekerasan seksual terhadap anak bukan hanya anak cewek juga anak cowok. Kalau kasus yang dilakukan sesama anak ini selalu kita mediasi dan kita 'kawal', karena ini akan berakibat bagi masa depan mereka," terang Sri.

Mantan Sekretaris Camat Kelapa Kampit itu menyatakan seluruh data kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang tercatat adalah kasus yang dilaporkan. Diakuinya banyak kasus yang tidak dilaporkan ke Tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

"Data ini yang masuk laporan ke kita, masih banyak yang takut atau enggan untuk melapor. Ada juga yang langsung ke Polres, namun kebanyakan diselesaikan di tingkat RT atau Desa," ungkap Sri.

Butuh Kepedulian Dari Seluruh Pihak

Tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Beltim mengungkapkan sangat sulit untuk menekan angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Mengingat, tidak banyak pihak yang mau turut serta mencegah terjadi kekerasan tersebut.

"Kita butuh bantuan dari masyarakat, seluruh pihak. Kami tidak bisa bekerja sendiri," ungkap Sekretaris Tim P2TP2A Kabupaten Beltim, Sri Mulyani.

Menurutnya banyak faktor yang menyebabkan terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak, seperti ekonomi, pernikahan dini, lingkungan, kepribadian media sosial, dan stigma gender. Namun salah satu faktor yang mendasari adalah lingkungan, yakni masih rendahnya kepedulian terhadap sesama.

"Kadang kita di Tim P2TP2A ini sedih, melihat kondisi yang ada. Banyak yang merasa itu bukan urusan mereka," tutur Sri.

Diakuinya sejak dilantik menjadi Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DSPMD, ia baru tahu tentang permasalahan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Beltim.

"Jangan jauh-jauh, saya aja pas di dinas lain dulu mungkin cuek tentang permasalahan ini. Makanya kepedulian ini sangat penting untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak khususnya yang terjadi di sekitar kita," ujar Sri.

Gerakan Se-Kampong Jaga Anak yang diluncurkan pada Juni 2017 lalu, dirasa belum efektif dan maksimal untuk menekan angka kekerasan khususnya terhadap anak. Untuk itu, tahun depan akan disosialisasikan kembali Satgas Teman Anak.

"Kita akan turun lagi ke desa-desa mensosialisasikan Satgas Teman Anak. Agar seluruh komponen masyarakat punya rasa kepedulian untuk mencegah terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak," kata Sri. (@2!)

Sumber : Diskominfo Beltim

Tidak ada komentar: