Dolar Naik, Sekda Babel Harap Inflasi Babel Tidak Ikut-ikutan Naik - INRADIOFM.COM

Berita Terbaru >>>

Sabtu, September 08, 2018

Dolar Naik, Sekda Babel Harap Inflasi Babel Tidak Ikut-ikutan Naik

INRADIOFM.COM, PANGKALPINANG - Sekda Pemprov Babel, Yan Megawandi berharap, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini, tidak berdampak terhadap kenaikan inflasi di Babel, dan TPID akan berupaya agar tidak terjadi gejolak serta kenaikan inflasi.

"Kita berharap tidak ada kenaikan terhadap inflasi, hasilnya kita tunggu angka inflasi bulan depan, " tambahnya.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat agar lebih bijak dalam berbelanja disaat kondisi seperti ini, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti inflasi dan lain sebagainya.

"Masyarakat juga kita harap pintar-pintar dalam berbelanja, jangan semua apa yang dimaui di beli, akhirnya dampaknya kurang bagus juga buat perekonomian," tambahnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Abdul Fatah, mengaku heran karena kenaikan Dolar AS saat ini tidak berdampak pada kenaikan harga lada. Kondisi ini menurutnya, berbeda dengan kondisi beberapa puluh tahun silam, dimana setiap Dolar naik maka lada akan mengalami kenaikan juga.

"Kalau dulu begitu Dolar naik, masyarakat senang karena bisa dijual tinggi, harga lada tinggi, tapi sekarang kenapa tetap bawah dan tak bergerak, maka kita harus memikirkan itu, ada apa," terangnya.

Wagub menyebutkan, semestinya harus ada strategi jauh-jauh hari yang disiapkan pemerintah untuk mengantisipasi kenaikan harga Dolar, sehingga pemerintah sudah punya cara untuk mengatasinya.

"Strategi, ini kondisi mendadak kita harus jauh sebelumnya persiapkan, kita bertahan dulu, kalau masih berlangsung maka kita jalankan langkah-langkah cepat," kata dia.

Wagub menegaskan, kondisi ini berlaku secara Nasional, bukan hanya di Babel saja, Ia melihat kenaikan Dolar ini harus diperkuat dengan ketahanan pangan daerah.

"Yang jelas kalau kita melihat dampak Dolar kita memiliki ketahanan pangan atau tidak, kalau punya kita mampu bertahan, demikian juga sumber daya, kalau enggak, berarti kita membeli, dan harga yang mahal itu yang berikan pengaruh terhadap perekonomian," jelasnya.

Untuk diketahui, sejak beberapa pekan terakhir, nilai tukar rupiah terus melemah dengan menguatnya Dolar AS, bahkan hingga mencapai angka Rp15.000 per Dolar. Kondisi ini dikhawatirkan akan memperburuk perekonomian Indonesia. (Nta_HK)

Penulis : Tri Dianita
Editor : Heri Kurniawan

Tidak ada komentar: